Sekolah mahal!! “PEMERINTAH TUTUP MATA”

Banyaknya keluhan orang tua murid khususnya dari golongan menengah ke bawah yang masih merupakan kalangan mayoritas di Indonesia mengenai besarnya biaya pendidikan yang harus mereka keluarkan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, menimbulkan suasana prihatin di kalangan akademis maupun non akademis yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat di dalam pendidikan. Bahkan pernah beberapa media cetak dan TV pernah menampilkan/ menayangkan beberapa anak didik yang nekad melakukan bunuh diri hanya karena ketidakmampuan orang tua mereka membayar kewajiban administrasi/ iuran sekolah. Melihat realita seperti ini apakah pemerintah dan penyelenggara pendidikan akan terus menutup mata dan hati nurani mereka ?!!
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4 menyatakan bahwa negara bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam mewujudkan upaya tersebut, setiap Warg anegara memiliki hak untuk mendapatkan pengajaran (Pasal 31 ayat 1 UUD 1945) dan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB IV Pasal 5 ayat (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, ayat (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/ atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, ayat (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, ayat (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus, dan ayat (5) Setiap Warga negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Hal ini berarti semua Warga negara Indonesia tanpa terkecuali berhak memperoleh pendidikan.
Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dalam sektor pendidikan, selain menyediakan sarana dan prasarana sekolah, memfasilitasi faktor-faktor pendukung kegiatan belajar mengajar, serta mengikutsertakan peran masyarakat di dalamnya dengan tidak membedakan strata sosial baik orang tua si-kaya atau miskin, pejabat maupun non pejabat, tetapi justru kenyataan terjadi kecenderungan bahwa hanya anak-anak yang orang tuanya kaya atau pejabat yang mampu mengenyam pendidikan terutama di sekolah-sekolah yang bergengsi dan favorit yang tentunya menetapkan standar biaya pendidikan yang tinggi pula. Mengingatkan kepada sejarah masa penjajahan dahulu di mana hanya anak-anak kaum bangsawan, orang mampu yang kaya pada waktu itu, serta anak penjajah itu sendiri yang bisa bersekolah. Bukankah negara kita sudah merdeka?!! Bagaimana hal ini bisa terjadi ? Hal ini tentu cukup menimbulkan keresahan dan polemik yang berkepanjangan yang tentu saja akan selalu menimbulkan pro dan kontra dalam permasalahan ini.
Dengan tidak mencari benar atau salahnya dalam menyikapi kondisi pendidikan yang ada sekarang ini justru menyadarkan kita tentang arti pentingnya pendidikan bagi setiap Warga negara Kesatuan Republik Indonesia, di mana dengan tingkat pendidikan yang baik tentunya juga akan berdampak pada tingkat kesejahteraan yang lebih baik pula. Tetapi tidak dipungkiri banyak pula orang yang tidak berpendidikan tinggi mampu menjadi “sukses” dalam kaca mata atau sudut pandang mereka masing-masing. Lalu arah pendidikan yang bagaimana yang sebenarnya yang cocok di terapkan di Indonesia? Apakah keinginan untuk mencetak orang-orang yang “pinter” (pandai dalam arti sebenarnya) atau justru mencetak orang-orang yang “minteri” (pandai membodohi orang lain.
Kondisi dan situasi yang berkembang sekarang ini di mana setiap penyelenggara pendidikan berlomba-lomba untuk mencetak anak didik mereka menjadi yang “ter-” bahkan penyelenggara pendidikan luar negeri pun membidik pangsa pasar pendidikan di Indonesia dengan menawarkan program pendidikan yang tak kalah menariknya sehingga tidak peduli berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk keinginan tersebut tanpa melihat situasi kondisi perekonomian secara makro dan kemampuan orang tua murid dalam membiayai sekolah anak-anak mereka. Mengingat kemampuan dan daya nalar masing-masing anak berbeda-beda tentunya hal ini sangat disayangkan seandainya penyelengara pendidikan dan orang tua murid hanya untuk mengejar prestise saja atau dengan kata lain gengsi yang akhirnya mereka tonjolkan untuk merasa ingin dikatakan lebih atau “ter-” tadi.
Dalam falsafah Jawa ada perkataan “Jer Basuki Mawa Bea” yang kurang lebih artinya bahwa sesuatu yang akan dikerjakan tentunya membutuhkan biaya dalam pelaksanaannya. Tetapi apakah dengan biaya pendidikan yang tinggi saat ini akan mampu menciptakan anak didik yang berkepandaian tinggi pula? Tentu saja jawabannya : belum tentu, karena masih banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.
Padahal seperti kita ketahui hampir 20% APBN Pemerintah Indonesia sudah dialokasikan untuk sektor pendidikan, bahkan Pemerintah telah mencanangkan Program Wajib Belajar 6 tahun, sejak tahun 1984 dan pelaksanaan Program Wajib Belajar 9 tahun yang telah dicanangkan sejak tahun 1994, Pemerintah juga mengeluarkan Program BOS dan BOS buku (BOS = Biaya Operasional Sekolah) untuk para siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama, pemberian program beasiswa bagi anak didik dari kalangan orang tua yang kurang mampu, sedangkan gaji dan tunjangan kepada para pendidik sekarang ini relatif cukup memadai, lalu mengapa sekolah harus mahal ?!! Di beberapa negara tetangga dekat kita justru ada yang membebaskan masalah pendidikan terhadap Warga negaranya alias sekolah gratis karena mereka menyadari pentingnya aset sumber daya manusia sebagai masa depan bangsa dan negara mereka serta rasa tanggung jawab tinggi terhadap Warga negaranya.

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM

A. Pendidikan Yang Tinggi (Sakral)
Pada intinya, pendidikan Islam berusaha mempelajari segala hal untuk lebih mengenal Rob (Allah). Seluruh aspekpeknya didasarkan pada nilai robbaniyah dijabarkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulnya. Dalam hal ini pendidikan Islam merupakan pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang segala hal yang diciptakan dan diajarkanNya sehingga bisa membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan Tempat Tuhan secara tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaanNya. Pendidikan Islam bukan sekedar pemenuhan otak saja, tetapi lebih mengarah kepada penanaman aqidah. Sementaraitu, pendidikan Islam oleh Hassan Langgulung sebagaimana dikutip Azyumardi Azra merupakan suatu proses penyiapan generasi muda, memindahkan pengetahuan dan nilai nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia sebagai khalifah fil ardl untuk beramal di dunia dan memetik hailnya di akhirat
B. Pendidikan Yang Komprehensif Dan Integral
Sebagai ajaran yang komprehensif, Islam memiliki beberapa karakteristik yang perlu kita pahami bersama dan dijadikan sebagai landasan berpikir serta bergerak dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama, merupakan agama yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Islam tidak mengenal sekat-sekat geografis. Hal ini yang menjadikan Islam sebagai rahmatan li al-’alamin. Hal ini juga sekaligus menegaskan kepada kita bahwa Islam bukanlah agama untuk bangsa Arab saja, seperti yang banyak dikatakan oleh orang-orang sekuler, tapi untuk seluruh umat manusia di segala penjuru dunia. Islam sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya juga berlaku sampai kapan pun, tak peduli di zaman teknologi secanggih apa pun. Islam tetap berfungsi sebagai pedoman hidup manusia. Setelah kita paham akan hal tersebut, maka tidak ada lagi istilah bahwa di zaman modern, ajaran-ajaran Islam sudah tidak relevan lagi.
Islam mengatur ajaran yang integral, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, dari masalah yang paling pribadi hingga kemasyarakatan dan kebangsaan. Mulai dari adab dalam melakukan kegiatan sehari-hari hingga urusan politik nasional dan internasional. Islam tidak hanya berbicara mengenai masalah ideologi saja, tetapi juga mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia di sektor ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan sektor lainnya. Bukankah ayat terpanjang yang termaktub dalam al-Quran berisi aturan dalam bermuamalah dan perdagangan (QS Al Baqarah: 282). Islam juga tidak hanya mengatur ajaran tentang hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah) saja, melainkan juga mengatur hubungan kemasyarakatan antar sesama manusia (hablun minannas). Itulah sebabnya dalam rukun Islam sebagai dasar peribadatan bagi kaum muslim, selain diwajibkan shalat sebagai sarana penghambaan secara langsung kepada Allah, juga ada ibadah zakat yang berhubungan dengan kepentingan sesama manusia. Secara empiris, dampak ibadah diharapkan akan menyentuh sisi kesejahteraan masyarakat, tidak hanya peningkatan kualitas spiritual.
C. Pendidikan Yang Realistis
Ada fenomena yang muncul dalam masyarakat, Pendidikan Islam adalah suatu konsep utopis yang tidak mungkin dapat diwujudkan, sungguh ini merupakan pandangan yang keliru tentang pemahaman dalam memahami Pendidikan Islam. Karena Pendidikan Islam berjalan dalam bingkai yang jelas dan realistis terhadap kenyataan dalam masyarakat. Hanya saja, Pendidikan Islam berpijak pada idealisme keislaman yang kadang disalah pahami oleh pihak pelaksana Pendidikan Islam. Akibatnya idalisme Pendidikan Islam tersebut dipandang sebagai lembaga yang mengutamakan nilai-nilai ukhrawi dan tidak peduli dengan kenyataan yang ada tegasnya, Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berjalan seiring dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat dan tetap menjaga nilai-nilai keislaman sebagai landasan berpijaknya
D. Pendidikan Yang Berkontinuitas
Proses pendidikan tidak mengenal istilah “Usai”. Setiap individu wajib belajar sepanjang hayat (long-life education). Hadits Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa menuntut ilmu wajib dilakukan dari buaian sampai ke liang lahat merupakan konsepsi pendidikan sepanjang hayat dalam makna tidak ada batasan waktu untuk terus belajar mendalami ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Konsepsi pendidikan sepanjang hayat telah menjadi dasar pijakan dan sekaligus pembuktian dari berbagai konsp pendidikan lain. Seperti yang dinyatakan oleh Sternberg ketika pendekatan triarchic diterapkan pada pendidikan sepanjang hayat ternyata memunculkan gagasan baru tentang hakekat kemampuan intelektual atau bagaimana kemampuan itu diukur (Sternberg,1997).
E. Pendidikan Yang Seimbang
Ajaran Islam menekankan aspek keseimbangan dalam segala hal. Seimbang dalam mengoptimalkan potensi akal, ruh dan jasad. Dalam Islam ditegaskan, seorang manusia akan mencapai sukses dalam kehidupannya, manakala bisa mengintegrasikan seluruh potensinya dengan kadar yang seimbang, baik segi intelektual, emosional, fisikal dan spiritual. Keseimbangan dalam menjalankan aktivitas dunia tanpa mengesampingkan aktivitas yang berorientasi akhirat. Ini adalah salah satu implementasi dari keimanan seseorang akan adanya hari akhir. Setiap aktivitas yang kita jalankan hendaknya selalu didasari oleh motivasi ibadah dan keikhlasan untuk Allah Swt, agar segala yang kita lakukan tidak hanya bermakna duniawi, tetapi juga berarti bagi kehidupan akhirat kelak. Prinsip itu yang melatar-belakangi adanya doa-doa dalam setiap aktivitas kita sehari-hari, sehingga setiap kegiatan yang secara lahiriah bersifat duniawiyah pun akan bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Tak ada yang sia-sia atau hanya berdampak jangka pendek bagi seroang Muslim. Keseimbangan juga perlu dijaga dalam hal kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat, sehingga seorang manusia tidak berkembang menjadi seorang individualis. Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda dalam haditsnya, bahwa “Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Kontribusi sosial menjadi ukuran dari lurusnya komitmen individual kita.
F. Pendidikan Yang Tumbuh Dan Berkembang
Pengembangan Ilmu Pengetahuan yang telah dikuasai harus diberikan dan dikembangkan kepada orang lain. Nabi Muhammad saw sangat membenci orang yang memiliki ilmu pengetahuan, tetapi tidak mau memberi dan mengembangkan kepada orang lain (HR. Ibn al-Jauzy). Selain itu pendidikan Islam yang bersumber dari Al Quran dan Hadist wajib dikembangkan dan diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu sesuai kebutuhan manusia selama tidak bertentangan dengan kaidah agama Islam
G. Pendidikan Yang Global/Internasional
Islam selalu sesuai untuk semua bangsa, zaman dan semua keadaan. Sebagai agama yang universal (rahmatan lil alamin) Islam dapat diterima oleh semua golongan, suku, bangsa karena Allah sudah menurunkan Al Quran yang isinya tentang segala hal yang akan diperlukan manusia pada jaman dulu, sekarang, dan masa yang akan datang, oleh siapapun, dimanapun.

Kesimpulan
Karakteristik Pendidikan Islam menggambarkan dengan jelas keunggulan Pendidikan Islam dibanding dengan pendidikan lainnya. Karena pendidikan dalam Islam mempunyai iokatan langsung dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Maka jelas bahwa Pendidikan Islam tidak menutup mata terhadapperkembangan yang ada ditengah masyarakat, termasuk perkembangan sains dan tekhnologi, hanya saja Pendidikan Islam tidak larut dalam perkembangan yang nyata-nyata yang bertentangan dengan syariat-syariat Islam

ISLAM SEBAGAI PARADIGMA ILMU PENDIDIKAN

Islam adalah agama yang menempatkan pendidikan dalam posisi yang sangat vital. Bukanlah sesuatu yang kebetulan, jika lima ayat pertama yang diwahyukan Allah kepada nabi Muhammad Saw dalam surat al-‘Alaq, dimulai dengan membaca (iqra’) yang secara tidak langsung mengandung makna dan implikasi pendidikan. Di samping itu, pesan-pesan al-Qur’an dalam hubungannya dengan pendidikan pun dapat dijumpai dalam berbagai ayat dengan aneka ungkapan pernyataan, pertanyaanm, dan kisah. Lebih khusus lagi, kata ‘ilm dan derivasinya paling dominan dalam al-Qur’an menunjukkan perhatian Islam yang luar biasa terhadap pendidikan.
Pendidikan secara cultural pada umumnya berada dalam lingkup peran, fungsi, dan tujuan yang tidak berbeda. Semuanya hidup dalam upaya yang beermaksud mengangkat dan menegakkan martabat manusia melalui transmisi yang dimilikinya, terutama dalam bentuk transfer of knowledge dan transfer of values.
Sebagai pendidikan yang berlabel “agama” maka pendidikan Islam memiliki transmisi spiritual yang sangat nyata dalam proses pengajarannya dibaanding dengan pendidikan “umum”, sekalipun pada keinginanini juga memiliki muatan serupa, kejelasannya terletak pada keinginan pendidikan Islam untuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri anak didik secara berimbang, baik aspek intelektual, spiritual, moralitas, keilmiahan, skill (keterampilan), dan cultural.
Oleh karena itulah pendidikan Islam memiliki beban yang multi paradigma, yang visinya sangat luas yaitu multi dimensi meliputi : (1) intelektual; (2) cultural; (3) nilai-nilai transcendental; (4) keterampilan fisik dan pembinaan kepribadian manusia itu sendiri. Di samping itu paradigma pendidikan Islam berusaha memadukan unsur profane dan imanen, di mana dengan pemaduan ini, akan membuka kemungkinan tujuan inti pendidikan Islam yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang.
Pada aspek yang lain, ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam pendidikan Islam adalah berorientasi pada nilai-nilai Islami, yaitu ilmu pengetahuan yang bertolak dari metode ilmiah dan metode profetik. Ilmu pengetahuan tersebut bertujuan menemukan dan mengukur paradigma dan premis intelektual yang berorientasi pada nilai kebaktian dirinya pada pembaharuan yang merupakan sumber dari segala sumber yang tia terjebak pada paradigm keilmuan yang “dikotomik”.
Konsepsi dasar terhadakp konteks pendidikan Islam tersebut di atas, adalah tidak terlepas dari pijakan epistemology dan upaya redefeenisi dan pencairan paradigm baru pendidikan Islam berdasarkan referensi wahyu dan fisi profetik yang terakumulasi dalam ajaran Islam. Dengan konteks ini, Islam sebagai agama wahyu yang merupakan pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat amat kaya sumber prinsip dankonsep kependidikan. Di samping itu Nabi Muhammad Saw sendiri diutus sebagai pendidik umat manusia. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ajaran Islam sarat dengan konsep pendidikan, sehingga bukan satu hal yang mngada-ngada bila Islam diangkat sebagai alternative paradigm ilmu pendidikan.
Lebih jauh Achmadi berpandangan, sebagai alternative paradigm pendidikan, disamping pendidikan sebagai ilmu humaniora yang termasuk ilmu normatif, juga masakah pendidikan sekarang para ahli lebih cenderung menerapkan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat yang pada umumnya sekuler, yang belum tentu sesuai dengan kebanyakan masyarakat Indonesia yang bersifat religius. Apalagi disadari bahwa Islam yang sarat dengan nilai-nilai ternyata sangat memungkinkan dijadikan sudut pandang dalam menganalisis persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gejala-gejala pendidikan. Dalam kerangka inilah kedudukan Islam dapat menjadi paradigma ilmu pendidikan.
Pernyataan Islam berbagai paradigm pendidikan merupakan kenisscayaan dan obsesi sekaligus persoalan. Pendidikan senantiasa menghendaki adanya paradigm dan implementasi baru dalam menjawab krisis intelektual, moralitas dan cultural kehidupan manusia.
Pendidikan sekarang tampak kehilangan nafas dan esensinya dalam membentuk manusia ideal kea rah intelektualitas, moralitas, dan cultural yang diharapkan. Islam dengan konsep ke-Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman ternyata amat strategis menjadikan manusia dan masyarakat berkualitas bahkan menjadikannya sebagai makhlkuk sempurna dalam kerangka kehidupan ideal ssecara keseluruhan.
Dengan paradigma filosofis-epistemologis pendidikan Islam merupakan pendidika ideal yang berwawasan nilai, semesta, integratif dan fungsional, yang dibangun secara utuh, dan menyeluruh berdasarkan nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah), nilai-nilai kemanusiaan (insaniyah), dan nilai-nilai kealaman (alamiyah) secara interaktif, dinamis, integrative, dan harmonis ke dalam kehidupan yang ideal bagi peradaban umat manusia, yang bersumber dari segala sumber, yaitu Allah Swt.
Dalam konteks ini semakin jelas bahwa dengan pijakan “Islam” sebagai pola dasar paradigm ilmu pendidikan, akan menjadikan pendidikan Islam sangat ideal dijadikan pijakan pembangunan semua aspek kehidupan yang tidak terlepas dari Konsep Ketuhanan (ilahiyah), Kemanusiaan (insaniyah), dan alam semesta (alamiyah) secara utuh dan integrative mewujudkan pendidikan berkualitas bagi masa depan umat manusia yang berperadaban, dan berkeadilan; humanis dan ummatik.

Sistem Pendidikan Islam Solusi bagi Pendidikan Nasional

BOGOR — Praktisi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr Arim Nasim menilai, sistem pendidikan Islam dapat memecahkan berbagai masalah akibat sistem pendidikan nasional yang dianut Indonesia. Kegagalan sistem pendidikan nasional tampak dari input, proses, dan output-nya.
”Sistem pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis untuk membentuk manusia yang berkarakter berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam, dan menguasai ilmu serta teknologi,” kata Dr Arim saat berbicara dalam seminar dan workshop nasional pendidikan bertema ’Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional: Sistem Pendidikan Islam sebagai Pendidikan Alternatif Mewujudkan Indonesia yang Lebih Baik’ di Graha Widya Wisuda Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga, Ahad (24/5). Acara yang dihadiri sekitar seribu peserta ini diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (KM) dan Lembaga Dakwah Kampus Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB.
Menurutnya sistem pendidikan Islam ini bukan berarti hanya diperuntukkan umat Islam atau berorientasi akhirat semata. Non-muslim sebagai warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang sama. Manusia, khususnya umat Islam, sangat dianjurkan menguasai ilmu dan teknologi dalam mempermudah setiap urusan keduniawian. ”Ini juga telah dibuktikan pada era keemasan Kekhilafahan Umayyah, Abbasiyah, dan Ustmaniyah. Pada masa itu ilmu dan teknologi di dunia Islam sangat maju, sedangkan Eropa dalam masa kegelapan,” paparnya.
Dalam Islam, suksesnya pendidikan tanggung jawab bersama antara individu, masyarakat dan negara, tapi pembiayaan pendidikan sepenuhnya tanggung jawab negara. ”Terjadi sinergis yang kuat antara individu, masyarakat dan negara. Berbeda dengan sistem pendidikan nasional saat ini yang berasaskan sekulerisme dan liberalisme. Sistem pendidikan sekarang tidak terjadi sinergis antara tiga peran fungsional pendidikan tersebut,” papar Dr Arim dalam siaran pers Humas IPB yang diterima Republika, Senin (25/5).
Di samping itu, katanya, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003 pembiayaan pendidikan dipikul tiga pihak, yakni individu (peserta didik), masyarakat, dan negara. Pembiayaan pendidikan dalam Islam terkait dengan politik ekonomi. Politik ekonomi Islam mewajibkan negara untuk memenuhi kebutuhan pokok individu (sandang, pangan dan papan ) dan kebutuhan pokok masyarakat (kesehatan, keamanan dan pendidikan ) secara menyeluruh.
Menurut Arim, pendidikan dalam sistem Islam wajib diselenggarakan oleh negara dengan biaya semurah-murahnya, bahkan gratis. Sumber-sumber pembiayaan pendidikan dalam Islam diambil dari pengelolaan negara atas kepemilikan umum berupa sumberdaya alam tambang, minyak, gas, kelautan, kehutanan, dan sebagainya. Islam melarang pengelolaan sumberdaya alam pada asing. Sumber-sumber pembiayaan pendidikan lain dapat diambil dari harta milik negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ghanîmah, kharaj, fai, jizyah, dan tebusan tawanan perang, zakat, infak, wakaf, sedekah, dan hadiah. Pajak merupakan pendapatan alternatif terakhir atau bersifat insidentil (temporal) dan hanya dipungut pada orang kaya.
Dia mengatakan, iklan di media masa yang mengatakan sekolah gratis sejatinya adalah suatu bentuk kebohongan terselubung. Sebab, uang untuk biaya sekolah yang diambil dari APBN berasal dari 80 persen pajak masyarakat. Jadi tidak gratis, tapi uang rakyat.
Hal senada diungkapkan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Bedjo Sujanto, M.Pd. Dia mengatakan, sulit sekali menemukan sekolah yang benar-benar gratis, khususnya di daerah-daerah. Bedjo juga mengkritisi visi misi dan tujuan pendidikan yang kadang kurang sinkron dengan kenyataan lapang. Namun ia menghimbau para guru agar tegar dan profesional mengajar. ”Kisah Laskar Pelangi dapat kita jadikan contoh. Berbagai hambatan dan keterbatasan, tak membuat Bu Muslimah dan murid mencapai cita-cita tinggi,” katanya.
Rektor IPB, Dr Ir Herry Suhardiyanto,MSc menyampaikan materi tentang pendidikan tinggi dalam perspektif persaingan global. Dia mengatakan, terdapat isu-isu strategis pendidikan tinggi meliputi daya saing, penelitian, pasca sarjana, diferensiasi misi, akses pengetahuan, otonomi, kesehatan organisasi, dan pendanaan. Semua isu strategis ini merupakan tantangan yang harus dihadapi. IPB sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik Indonesia menjadikan tantangan tersebut sebagai peluang. “Patut disyukuri, IPB secara bertahap memperbaiki ranking di tingkat internasional,” ucapnya. (Republika online, 25/05/2009-pukul 17:41

kualitas dan Ciri Pendidikan di Indonesia

A. Kualitas Pendidikan di Indonesia
Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.
Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.
“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).
Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:
•Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.
•Langkah kedua, menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta jender.
•Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.
•Langkah keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.
•Langkah kelima, pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.
•Langkah keenam, pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun.
•Langkah ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.
•Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.
B. Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia
Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.
Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi, melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di asrama-asrama, lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, melalui radio, surat kabar dan sebagainya. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa.
Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

Sepak Bola Indonesia Akan Terkena Sanksi Fifa

Mantan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Agung Gumelar, menilai sepak bola Indonesia sudah semakin dekat dengan sanksi dari FIFA. Pasalnya, hingga saat ini perpecahan antara PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) belum juga terselesaikan. Untuk itu, pemerintah harus siap dan berusaha merespons ini dengan baik.

Atas berbagai konflik tersebut, FIFA akhirnya kembali mengirimkan surat tertanggal 26 November yang ditandatangani Sekjen Jerome Valcke terkait penyelesaian dualisme kompetisi maupun kepengurusan organisasi sepak bola Indonesia. Dalam suratnya itu, FIFA memberi tenggat waktu kepada Indonesia hingga 10 Desember untuk menyelesaikan berbagai masalah itu. Bila gagal, FIFA akan mengeluarkan sanksi ketika Federasi Sepak Bola Dunia ini menggelar pertemuan di Tokyo, 14 Desember mendatang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta turun tangan menangani sepak bola Indonesia yang tengah terancam sanksi dari FIFA. Salah satu cara yang dapat dilakukan Presiden yaitu memilih Menteri Pemuda Olahraga (Menpora) baru yang mampu menyelesaikan konflik sepak bola Indonesia.

Pascapengunduran diri Andi Mallarangeng yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pos Kemenpora saat ini masih kosong. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono ditunjuk sebagai pejabat sementara untuk mengambil alih tugas Menpora.

PSSI sendiri sudah menggelar Kongres Luar Biasa di Palangkaraya, Senin (10/12/2012). KLB yang berlangsung selama 30 menit itu memutuskan membatalkan MoU dengan KPSI dan membubarkan Joint Committee (JC). Hasil kongres nantinya akan dibawa wakil FIFA dan AFC tersebut ke rapat Komite Eksekutif FIFA di Tokyo.

Namun, salah satu yang dapat membuat FIFA menilai sepak bola Indonesia gagal menyelesaikan konflik karena KPSI juga melakukan kongres tandingan pada hari yang sama di Jakarta. Artinya, kisruh sepak bola ini makin rumit dan jauh dari akhir yang mampu menyelesaikan persoalan.

“Segera pilih Menpora yang mampu menyelesaikan konflik sepak bola Indonesia. Jika tidak, akan tercatat dalam sepanjang sejarah negeri ini di mana titik kehancuran sepak bola Indonesia justru terjadi di era kepemimpinan Presiden SBY,” ujar Apung Widadi juru bicara gerakan Save Our Soccer (SOS).

SOS menilai, momentum pergantian Menpora ini harus dijadikan agenda perubahan memperbaiki sepak bola Indonesia oleh Presiden. Mereka menilai, momentum tersebut harus dilakukan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan karut-marut sepak bola Indonesia yang hingga saat ini belum juga menemui titik terang.

“Momentum ini harus dijadikan alat membangkitkan sepak bola Indonesia melalui Menteri Olahraga dan Pemuda yang baru,” harap SOS.

Mad’U (Objek Dakwah)

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai, bahwa tata cara mwmberikan lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu sendiri. Semangkok teh pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengn cara sopan, ramah dan tanpa sikap yang dibuat-buat, akan lebih terasa enak dicicipi.
Dalam konteks ini tata cara atau metode lebih penting dari materi, yang dalam Bahasa Arab dikenal dengan Al-Thariqah Ahammu min Al-Maddah. Ungkapan ini sangat relevan dengan kegiatan dakwah. Betapapun sempurnanya materi, lengkapnya bahan dan aktualnya isu-isu yang disajikan,tetapi bila disampaikan dengan cara yang sembrono, tidak sistematis dan sembarangan, akan menimbulkn kesan yang tidak simpatik dan berujung kesia-siaan. Tetapi sebaliknya, walaupun materi kurang sempurna, bahan sederhana dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun disajikan dengan cara yang menarik dan menggugah, maka hasilnya akan impresif dan melahirkan manfaat.
Dan salam pengejawantahan ajaran Islam, tentunya diperlukan format dakwah yang benar yang bermuarah kepada pencerdasan dan pendewasaan keagamaan, melihat problematika umat yang dihadapi dewasa ini sangat kompleks, akan tentunya membutuhkan pemecahannya. Untuk itu dakwah harus tampil secara aktual, faktual dan kontektstual dalam artu relevan dan menyangkut problema yang sedang dihadapi oleh masyarakat, kesemuanya ini dilakukan demi untuk mewujudkan khairu ummah.
Kehadiran makalah ini diharapkan dapat membantu memberikan landasan teori bagi pelaksanaan dakwah. Sehingga para da’i memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif terhadap aktifitas dakwah, dan mempermudah Da’i dalam mengetahui tipologi dan klasifikasi masyarakat serta kemampuan berfikir terhadap sasaran dakwah secara tepat. Sebab seiap sasaran atau object dakwah memiliki suatu ciri-ciri tersendiri yang memerlukan suatu kebijakan dakwah dalam penyampaian, baik menyangkut masalah metodologis maupun kerangka konseptualnya. Dengan demikian, diharapkan umat akan memahami bahwa tuga dakwah baik secra individu, maupun berorganisasi, sehingga ajaran Islam tetap membumi sebagi pegangan hidup umat.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari makalah ini, kami membuat beberapa rumusan masalah, yaitu:
 Apakah Objek dakwah itu?
 Siapa yang termaksud dalam rumpun mad’u?
 Apa konsep al-Qur’an dalam menyikapi respon mad’u?

C. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Makalah ini terbagi dari tiga bagian, yaitu : I. Pendahuluan, II. Pembahasan, III. Penutup. Bagian pertama adalah pendahuluan yang membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, dan sistematika pembahasan, bagian kedua pemakalah membahas pengertian objek dakwah, pengenalan strata mad’u, dan konsep Al-Qur’an dalam menyikapi respon mad’u. Bagian ketiga penulis menutup denganmengemukakan kesimpulandari penulisan makalah. Bagian akhir makalah ini, penulis melengkapidengan daftar pustaka sebagai rujukan

BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
1. Apakah Mad’u (Object Dakwah) itu?
Object Dakwah (mad’u) adalah merupakan sasaran dakwah. Yang tertuju pada masyarakat luas, mulai diri pribadi, keluarga, kelompok, baik yang menganut Islam maupun tidak ; dengan kata lain manusia secara keseluruhan. Sejalan dengan firman Allah dalam QS. Saba’ 28 :

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS. Saba’:28)
Terkait dengan ayat di atas memberi kejelasan bahwa dakwah itu diajukan kepada seluruh umat manusia. Menurut pandangan Abdul Munir Mulkhan, bahwa Object akwah ada dua sasaran, yaitu umat dakwah dan umat ijabah. Umat dakwah yang dimaksud adalah masyarakat luas non Muslim, sementara umat ijabah adalah mereka yang sudah menganut Agama Islam. Kepada manusia yang belum beragama Islam, dakwah bertujuan untuk mengajak mereka untuk mengikuti Agama Islam ; sedangkan bagi orang-orang yang telah beragana Islam dakwah bertujuan meningkatkan kualitas Iman, Islam dan Ihsan. Hal yang sama juga dikemukakan Muhammad abu Al-Fatl al Bayanuni, mengelompokkan mad’u dalam dua rumpun besar, yaitu rumpun muslim atau umat ijabah (umat yang telah menerima dakwah) dan non Muslim atau umat dakwah (umat yang belum sampai kepada mereka dakwah Islam). Umat ijabah dibagi dalam tiga kelompok, yaitu: pertama, Sabiqun bi al-khaerat (orang yang saleh dan bertaqwa), kedua, Dzalimun linafsih (orang fasih dan ahli maksiat), ketiga, muqtashid (mad’u yang labil keimanannya). Sedangkan umat dakwah dibagi dalam empat kelompok, yaitu: Ateisme, Musyrikun, ahli kitab, dan munafiqun.
Moh. Ali Aziz mengemukakan bahwa bagi orang yang menerima dakwah itu lebih tepat disebut mitra dakwah dari pada sebutan object dakwa, sebab sebutan object dakwah lebih mencerminkan kepasifan penerima dakwah; padahal sebenarnya dakwah adalah suatu tindakan menjadikan orang lain sebagai kawan berfikir tentang keimanan, syari’ah, dan akhlak kemudian untuk diupayakan dihayati dan diamalkan bersama-sama. Menurtu hemat penulis baik sebutan object ataupun mitra dakwah itu sama saja, yang terpenting adalah bagaimana seorang dai mampu mengkomunikasikan dakwah secara baik dan tepat kepada mad’unya sehingga mad’u dapat memahami dan mengamalkan isi pesan yang disampaikan.
M. Bahari Gazali, melihat object dakwah dari tinjauan segi psikologinya, yaitu :
1. Sasaran dakwah yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologisnya berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota serta masyarakat marjinal dari kota besar.
2. Sasaran dakwah yang menyangkut golongan dilihat dari segi struktur kelembagaan berupa masyarakat dari kalangan pemerintah dan keluarga.
3. Sasaran dakwah yang berupa kelompok dilihat dari segi sosial kultur berupa golongan priyayi, abangan, dan santri. Klasifikasi ini terutama dalam massyakat Jawa.
4. Sasaran dakwah yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat usia berupa golongan anak-anak, remaja dan dewasa.
5. Dilihat dari segi profesi dan pekerjaan. Berupa golongan petani, pedagang, buruh, pegawai, dan administrator.
6. Dilihat dari jenis kelamin berupa golongan pria dan wanita.
7. Golongan masyarakat dilihat dari segi khusus berupa tuna susula, tuna karya. nara pidana, dan sebagainya.
Selain itu M. Bahri Ghazali, juga mengelompokkan mad’u berdasarkan tipologi dan klasifikasi masyarakat, yang dibagi dalam lima tipe, yaitu:
1. Tipe innovator, yaitu masyarakat yang memiliki keiginan keras pada setiap fenomena sosial yang sifatnya membangun, bersifat agresif dan tergolong memiliki kemampuan antisipatif dalam setiap langkah.
2. Tipe pelopor, yaitu masyarakat yang selektif dalam menerima pembaharuan dalam membawa perubahan yang positif. Untik menerima atau menolak ide pembaharuan, mereka mencari pelopor yang mewakili mereka dalam menggapai pembaharuan itu.
3. Tipe pengikut dini, yaitu masyarakat sederhana yang kadang-kadang kurang siap mengambil resiko dan umumnya lemah mental. Kelompok masyarakat ini umumnya adalah kelompok kelas dua di masyarakatnya, mereka perlu seorang pelopor dalam mengambil tugas kemasyarakatan.
4. Tipe pengikit akhir, yaitu masyarakat yang ekstra hati-hati sehingga berdampak kepada anggota masyarakat yang skeptis terhadap sikap pembaharuan, karena faktor kehati-hatian yang berlebihan, maka setiap gerakan pembaharuan memerlikan waktu dan pendekatan yang sesuai untuk bisa masuk.
5. Tipe kolot, ciri-cirinya, tidak mau menerima pembaharuan sebelum mereka benar-benar terdesak oleh lingkungannya.
Mad’u bisa juga dilihat dari segi kemampuan berfikirnya sebagai berikut :
a. Umat yang berfikir kritis, yaitu orang-orang yang berpendidikan, yang selalu berfikir mendalam sebelum menerima sesuatu yang dikemukakan kepadanya.
b. Umat yang mudah dipengaruhi, yaitu masyarakat yang mudah dipengaruhi oleh paham baru tanpa mempertimbangkan secara mantap apa yang dikemukakan padanya.
c. Umat bertaklid, yaitu golongan yang fanatik, buta brerpegang pada tradisi, dan kebiasaan turun-temurun tempat menyelidiki kebenarannya.

B. MENGENAL STRATA MAD’U
Salah satu tanda kebesaran Allah di alam ini adalah keragaman makhluk tang bernama manusia, Allah SWT. berfirman :

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat:13)
Dalam ayat lain Allah berfirman :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”
Ayat ini menjelaskn kepada kita bahwa keragaman jenis kelamin, suku, bangsa, warna kulit dan bahasa sebagai tanda kebesaran Allah yang perlu diteliti dengan seksama untuk mengenal lebih dekat tipologi manusia untuk selanjutnya menentukan pola interaksi buat masing-masing kelompok yang berbeda. Mengenal tipologi manusia adalah salah satufaktor penentu suksesnya tugas dakwah, dan merupakan salah satu fenomena alamyang hanya bisa ditangkap oleh orang alim.
1. Mengenal Strata Mad’u Sebagai Landasan Normatif
Salah satu makna hikma dalam berdakwah adalah menempatkan manusia sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan Allah. Di sat terjun ke sebuah komunitas, atau melakukan kontak engan seorang mad’u, da’i yang baik harus mempelajari terlebih dahulu data riil tentang komunitas atau pribadi yang bersangkutan.
Berikut ini beberapa landasan normatif tentang pola komunikasi dan interaksidengan beragam manusia :
 Allah berfirman :

“Dan di atas tiap orang-orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui”

Hasan al Bashri berkata: “tidak ada seorang alim pun kecuali di atasnya orang alim lagi sampai berakhir kepada Allah.” Ayat ini memberikan informasi kepada kita bahwa kadar ilmu pengetahuan manusia bertingkat. Informasi ini sekaligus isyarat kepada kita bagaimana membangun komunikasi dengan level manusia tersebut.

 Ali bin Abi Thalib berkata:

“Berbicaralah dengan orang sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka, apakah engkau suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
Ali sangat memahami karakter manusia, dakwah yang dilakukan tanpa memandang strata mad’ubisa berakibat fatal, ayat Allah dan sabda Rasul bisa menjadi bahan olok-olokkan orang yang tidak paham.

 Dari Aisyah ra., beliau berkata :

“Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.”

 Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah SAW. membekali beliau dengan ilmu dakwah. Rasulullah SAW. bersabda :

“Rasulullah berkata kepada Mu’adz bin Jabal sebelum beliau melepasnya ke Yaman :”sesungguhnya engkau akan mendatangi negeri yang penduduknya Ahli Kitab. Jika kamu telah sampai ke sana, dakwahilah mereka untuk mengikrarkan kalimat syahadat. Jika mereka merespon dakwahmu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaati perintah ini, sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada merekazakat yang diambil dari orang kaya untuk didistribusikan kepada orang miskin di antara mereka. Jika mereka menaati perintah ini, maka berhati-hatilah dengan harta-harta berharga mereka, dan berhati-hatilah dengan doa orang yang terzalimi, karena doa mereka tidak terhijab untuk sampai kepada Allah.”

Rasulullah membekali Mu’adz dengan informasi mad’u yang akan dihadapi Mu’adzda apa yang harus disampaikan, dan bagaimana langkah setelah mereka merespon ajakan pertama atau menolak.

 Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah :
“Wahai Aisyah, andaikan bukan karena kaummu baru masuk Islam, pasti aku akan merombak ka’bah, dan aku jadikan dua pintu, pintu untuk masuk dan pintu untuk keluar.”
Dalam menjelaskan hadist ini, Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata : “Orang Quraisy sangat mengagungkan Ka’bah. Rasulullah SAW berencana untuk merubah bangunannya, tetapi beliau khawatir disangka maca
m-macam oleh penduduk Quraisyyang baru masuk Islam, akhirnya beliau mengurumgkan rencananya.
Inilah beberapa contoh aplikatif Rasulullah SAW melaksanakan perinitah Allah agar berdakwah dengan hikmah.

2. Mengenal Rumpun Mad’u
Tidak ada kesepakatan di antara peneliti dakwah tentang jumlah dari rumpun mad’u. Beberapa pendapat yang dapat kami himpun sebagai berikut :
1. Di awal surah al-Baqarah, mad’u dikelompokkan dalam tiga rumpun, yaitu: mukmin, kafir dan munafiq. Mujahid berkata : “empat ayat di surah al-Baqaarah mendeskripsikan tentang sifat orang mukmin, dua ayat mendeskripsikan sifat orang kafir, dan tiga belas ayat berikutnya mendeskripsikan sifat orang munafiq…”. dalam istilah M. Natsir, kelompok mad’u ada tiga, yaitu : “kawan yang setia sehidup semati, dari awal sampai akhir,dan lawan yang ecara terang-terangan memusuhinya dari awal sampai akhir; dan lawan yang bermain pura-pura menjadi kawan, samnil menunggu saat untuk menikan dari belakang”.
2. Secara umum mad’u menurut Imam Habib Abdullah Haddad dapat dikelompokkan dalam delapan rumpun, yaitu :
a. Para ulama
b. Ahli zuhud dan ahli ibadah
c. Penguasa dan pemerintah
d. Kelompok ahli perniagaan, industri dan sebagainya
e. Fakir miskin dan orang lemah
f. Anak istri, dan kaum hamba
g. Orang awam yang taat dan yang berbuat maksiat
h. Orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
3. Abdul Karim Zaidan dalam ushul al-Da’wah mengelompokkan mad’udalam empat rumpun, yaitu : al-mala’ (penguasa), jumbur al-nas (mayoritas masyarakat), munafikun dan ahli maksiat.
4. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani melakukan pembagian yang hampir sama dengan al-Bayanuni, yaitu membagi mad’u dengan kategori muslim dan non-muslim. Mad’u dalam rumpun muslim dibagi menjadi dua, yaitu : Muslim yang cerdas dan siap menerima kebenaran. Dan Muslim yang siap menerima kebenaran, tetapi mereka sering lalai dan kalah dengan hawa nafsu. Sedangkan non-muslim, pembagiannya sama dengan al-Bayanuni, teetapi beliau tidak memasukkan munafik dalam kelompok non-muslim.

C. KONSEP AL-QURAN DALAM MENYIKAPI RESPON MAD’U
Bahasa dakwah yang diperintahkan Al-Quran sunyi dari kekasaran, lembut, indah, santun, juga membekas pada jiwa, memberi pengharapan hingga mad’u dapat dikendalikan dan digerakkan perilakunya olah da’i. Term Qoulan Sadida merupakan persyaratan umum suatu pesan dakwah agar dakwah persuasif memilih kata yang tepat mengenai sasaran sesuai dengan field of experience dan frame of reference komunikan telah dilansir dalam beberapa bentuk oleh al-Quran diantaranya:
1. Qoulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa)
Ungkapan Qoulan Baligha terdapat pada surah an-Nisa ayat 63 dengan firmannya:

“mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hai mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada merekaperkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”
Yang dimaksud ayat di atas adalah perilaku orang munafik. Ketika diajak untuk memahami hukum allah, mereka menghalangi orang lain untuk patuh (ayat 61). Kalau mereka mendapat musibah atau kecelakaan karena perbuatan mereka sendiri, mereka datang mohon perlindungan atau bantuan. Mereka inilah yang perlu dihindari, diberi pelajaran, diberi pelajaran, atau diberi penjelasan dengan cara yan berbekassatau ungkapan yang mengesankan. Karena itu, Qoulan Baligha dapat diterjemahkan ke dalam komunikasi yang efektif yang bisa menggugah jiwanya. Bahasa yang dipakai adalah bahasa yang akan mengesankan atau membekass pada hatinya. Sebab di hatinya banyak dusta, khianat dan ingkar janji. Kalau hatinya tidak tersentuh sulit menundukkannya.
Jalaluddin Rahmat memerinci pengertian qoulan baligha tersebut menjadi dua, qoulan baligha terjadi bila da’i (komunikator) menyesuaikan pembicarannya dengan sifat-sifat khalayakyang dihadapinya sesuai dengan frame of reference and field of experience. Kedua, qoulan baligha terjadi bila komunikator menyentuh khalayaknyapada hati dan otaknya sekaligus.
2. Qoulan Layyinan (perkataan yang lembut)
Term qoulan layyinanterdapat dalam surah Thaha ayat 43-44 secara harfiyah berarti komunikasi yang lemah lembut (Layyin).

“pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui bata; maka berbicaralah kamu berdua kepadanyaengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
Berkata lembut tersebut adalah perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun supaya menyampaikan Tabsyier dan Inzar kepada Fir’aun dengan “Qoulan Layyinan”karena ia telah menjalani kekuasaan melampaui batas, Musa dan Harun sedikit khawatir menemui Fir’aun yang kejam. Tetapi Allah tahu dan memberi jaminan

“Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku Mendengar dan Melihat.” (QS. Thaha:46)
Berhadapan dengan penguasa yang tiran, al-Qur’an mengajarkan agar dakwah kepada mereka haruslah bersifat sejuk dan lemah lembut , tidak kasar dan lantang, perkataan yang lantang kepada penguasa tiran dapat memancing respon yamng lebih keras dalam waktu spontan, sehingga menghilangkan peluang untuk berdialog atau komunikasi antar kedua belah pihak, da’i dan penguasa sebagai mad’u.
3. Qoulan Ma’rufan (Perkataan yang baik)
Qoulan ma’rufan dapat diterjemahkan dengan ungkapan yang pantas. Salah satu pengertian ma’rufan secara etimologis adalah al-khaer atau ihsan, yang berarti yang baik-baik. Jadi qoulan ma’rufan mengandung pengertian perkataan atau ungkapan yang pantas dan baik. Di dalam al-Qur’an ungkapan qoulan ma’rufan ditemukan pada surah al-Baqarah 2:235, 2 ayat pada surah an-Nisa ayat 5 dan 8, serta satu ayat lagi terdapat pada surah al-Ahzab ayat 32. Semua ayat ini turun pada periode Madinah seperti diketahuikomunitas Madinah lebih heterogen ketimbang Makkah. Dalam ayat 235 surah al-Baqarah ini qoulan ma’rufan mengandung beberapa pengertian antara lain rayuan halusterhadap seorang wanita yang ingin dipinang untuk istri. Jadi, ini merupakan komunikasi etis dalam menimbang perasaan wanita, apalagi wanita yang diceraikan suaminya. Dalam ayat 5 surah an-Nisa ‘ qoulan ma’rufan berkonotasi kepada pembicaraan-pembicaraan yang pantas bagi seorang yang belumdewasa atau cukup akalnya atau orang dewasa tetapi tergolong bodoh. Kedua orang ini tentu tidak siap menerima perkataan bukan ma’rufkarena otaknya tidak cukup siap menerima apa yang disampaikan, justru yang menonjol adalah emosinya.
Sedangkan pada ayat 8, surat yang sama lebih mengandung arti bagaimana menetralisir perasaan famili anak yatim, dan orang miskin yan hadir ketika ada pembagian warisan. Meskipun mereka tidak tercantumdalam daftar sebagai yang berhak menerima warisan. Namun, Islam mengajarkan agar mereka diberi sekadarnya dan diberi dengan perkataan yang pantas. Artinya, jika diberi tetpi diiringi dengan perkataan yang tidak pantas, tentu perasaan mereka tersinggung atau terhiba hati, apalagi tidak diberi apa-apaselain ucapan-ucapan kasar.
Pada ayat 32 durah al-Ahzab qoulan ma’rufan berarti tuntunan kepada wanita istri Rasul agar berbicara yang wajar-wajarsaja tidak perlu bermanja-manja, tersipi-sipu, cengeng, atau sikap berlebihanyng akan mengundang nafsu birahilawan bicara.
Jalaluddin Rahmat menjelaskan bahwa qoulan ma’rufan adalah perkataan yang baik. Allah menggunakan frase ini ketika bicara tentang kewajiban orang-orang kaya atau orang kuat terhadap orang-orang yang miskinatau lemah. Qoulan ma’rufan berartipembicaraan yang bermanfaat, memberikan pengetahuan, mencerahkan pemikiran, menunjukkan pemecahan terhadap kesulutan kepada orang lemah, jika kita tidak dapat membantu secara material, kita harus dapat membantu psikologi.
4. Qoulan Maisura (Perkataan yang ringan)
Istilah qoulan maisura tersebut dalam al-Isra.kalimat al-Isra berasal dari kata yasr, yang artinya mudah. Qoulan maisura adalah lawan dari kata ma’sura, perkataan yang sulit. Sebagai bahasa komunikasi, qoulan maisura artinya perkataan yang mudah diterima, dan ringan, yang pantas, yang tidak berliku-liku. Dakwah dengan qoulan maisura artinya pesan yang disampaikan itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat dipahami secara spontan tanpa harus berpikir dua kali. Pesan dakwah model ini tidak memerlikan dalil naqli maupun argumen-argumen logika.
Dakwah dengan pendekatan Qoulan Maisura harus menjadi pertimbangan mad’u yang dihadapi itu terdiri dari:
 Orang tua atau kelompok orang tua yang merasa dituakan, yang sedang menjalani kesedihan lantaran kurang bijaknya perlakuan anak terhadap orang tuanya atau oleh kelompok yang lebih muda.
 Orang yang tergolong di dzalimi haknya oleh orang-orang yang lebih kuat.
 Masyarakat yang secara sosial berada di bawah garis kemiskinan, lapisan masyarakat tersebut sangat peka dengan nasihat yang panjang, karenanya da’i harus memberikan solusi dengan membantu mereka dalam dakwah bil hal.
5. Qoulan Karima (Perkataan yang Mulia)
Dakwah dengan qoulan karima sasarannya adalah orang yang telah lanjut usia, pendekatan yang mulia, santun, penuh penghormatan dan penghargaantidak menggurui tidak perlu retorika yang meledak-ledak. Term qoulan karima terdapat dalam surat al-Isra ayat 23.
Dalam perspektif dakwah maka term pergaulan qoulan karima diperlakukan jika dakwah itu ditujukan kepada kelompok orang yang sudah masuk kategori usia lanjut, seorang da’i dalam perhubungan dengan lapisan mad’u yang sudah masuk usia lanjut, haruslah bersikap seperti terhadap prang tua sendiri, yakni hormat adab tidak berkata kasar kepadanya, karena manusia meskipun sudah mencapai usia lanjut, bisa saja berbuat salah, atau melakukan hal-hal yang sesat menurut ukuran agama. Sementara itu kondisi fisik mereka yang mulai melemah membuat mereka mudah tersinggung dan pendekatan dakwah terhadap orang tersebut telah dilandasi dalam al-Qur’an dengan term qoulan karima.
Dengan demikian heteroginitas manusia penerima dakwah dalam segi latar belakang sosio ekonomi, agama, budaya, tingkat pengetahuan, kwalitas kwesantrian, serta heterogen dalam bentuk komunikasi kelompoknya. Kesemuanya ini harus dicermati setiap da’i agar dakwa yang dijalankannya lebih komunikatif. Dengan penggunaan metodologi analisis psikologis untuk mengetahui tipologidan klasifikasi masyarakat. Serta kemampuan berfikir terhadap sasaran dakwah secara tepat, sebab setiap sasaran atau objek dakwah memiliki suatu ciri-ciri tersendiri yang memerlukan suatu kebijakan dakwah dalam penyampaian, baik menyangkut masalah metodologis maupun kerangka konseptualnya.

BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan klasifikasi di atas, kami menyimpulkan beberapa hal, sebagai berikut:
 Objek dakwah dibedakan menjadi dua : umat ijabah dan umat dakwah
 berdasarkan data-data rumpun mad’u , dapat dikelompokkan dengan lima tinjauan, yaitu:
a. Mad’u ditinjau dari segi penerimaan dan penolakan ajaran Islam, terbagi dua, yaitu muslim dan non-muslim
b. Mad’u ditinjau dari segi tingkat pengalaman ajaran agamanya, terbagi tiga, dzalimun linafsih, muqtashid dan sabiqun bilkhaerat.
c. Mad’u ditinjau dari tingkat pengetahuan agamanya, terbagi tiga, ulama, pembelajar dan awam
d. Mad’u ditinjau dari struktur sosialnya, terbagi tiga; pemerintah (al-Mala’), masyarakat maju (al-Mufrathin) dan terbelakang (al-Mustadh’afin).
e. Mad’uditinjau dari priorotas dakwah, dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dst
 Konsep al-Qur’an dalam menyikapi respon mad’u:
– Orang munafik dan kafir : perkataan yang membekas di hati qoulan baligha, terdapat dalam QS. An-Nisa:63
– Penguasa Tiran : perkataan yang sejuk dan lembut. Qoulan layyinan, terdapat dalam QS. Thaha:43-44
– Kelompok tertindas atau rakyat. Orang yang dituakan tetapi sudah ketinggalan zaman. Orang yang teraniaya. Masyarakat kumuh di tengah kemakmuran kota : perkataan yang ringan qoulan maisura, terdapat dalam QS. Al-Isra:28
– Manusia lanjut usia atau pensiunan : perkataan yang mulia qoulan karima, terdapat dalam QS. Al-Isra’:23

B. SARAN
 Diharapkan bagi masyarakat Islam secara umum, khususnya kalangan akademisi dakwah dan aktivis dakwah agar dapat mengisi khazanah perbendaharaan buku-buku keislamantentang dakwah Islam, untuk dijadikan bahan referensidalam melaksanakanatau mengembangkan dakwah.

DAFTAR PUSTAKA
Razak, Nasaruddin, Metodologi Dakwah, Semarang: Toha Putra, 1976
Abdul Jalil, Rafiudin Maman., Prinsip dan Strategi Dakwah, Bandung: Pustaka Setia, 1997
Bahtar, Paradigma Dakwah Islam: Aplikasi Teoritis dan Praktek Dakwah dalam Mengikuti Perubahan Sosial, Palu: Yayasan Masyarakat Ind