ISLAM SEBAGAI PARADIGMA ILMU PENDIDIKAN

Islam adalah agama yang menempatkan pendidikan dalam posisi yang sangat vital. Bukanlah sesuatu yang kebetulan, jika lima ayat pertama yang diwahyukan Allah kepada nabi Muhammad Saw dalam surat al-‘Alaq, dimulai dengan membaca (iqra’) yang secara tidak langsung mengandung makna dan implikasi pendidikan. Di samping itu, pesan-pesan al-Qur’an dalam hubungannya dengan pendidikan pun dapat dijumpai dalam berbagai ayat dengan aneka ungkapan pernyataan, pertanyaanm, dan kisah. Lebih khusus lagi, kata ‘ilm dan derivasinya paling dominan dalam al-Qur’an menunjukkan perhatian Islam yang luar biasa terhadap pendidikan.
Pendidikan secara cultural pada umumnya berada dalam lingkup peran, fungsi, dan tujuan yang tidak berbeda. Semuanya hidup dalam upaya yang beermaksud mengangkat dan menegakkan martabat manusia melalui transmisi yang dimilikinya, terutama dalam bentuk transfer of knowledge dan transfer of values.
Sebagai pendidikan yang berlabel “agama” maka pendidikan Islam memiliki transmisi spiritual yang sangat nyata dalam proses pengajarannya dibaanding dengan pendidikan “umum”, sekalipun pada keinginanini juga memiliki muatan serupa, kejelasannya terletak pada keinginan pendidikan Islam untuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri anak didik secara berimbang, baik aspek intelektual, spiritual, moralitas, keilmiahan, skill (keterampilan), dan cultural.
Oleh karena itulah pendidikan Islam memiliki beban yang multi paradigma, yang visinya sangat luas yaitu multi dimensi meliputi : (1) intelektual; (2) cultural; (3) nilai-nilai transcendental; (4) keterampilan fisik dan pembinaan kepribadian manusia itu sendiri. Di samping itu paradigma pendidikan Islam berusaha memadukan unsur profane dan imanen, di mana dengan pemaduan ini, akan membuka kemungkinan tujuan inti pendidikan Islam yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang.
Pada aspek yang lain, ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam pendidikan Islam adalah berorientasi pada nilai-nilai Islami, yaitu ilmu pengetahuan yang bertolak dari metode ilmiah dan metode profetik. Ilmu pengetahuan tersebut bertujuan menemukan dan mengukur paradigma dan premis intelektual yang berorientasi pada nilai kebaktian dirinya pada pembaharuan yang merupakan sumber dari segala sumber yang tia terjebak pada paradigm keilmuan yang “dikotomik”.
Konsepsi dasar terhadakp konteks pendidikan Islam tersebut di atas, adalah tidak terlepas dari pijakan epistemology dan upaya redefeenisi dan pencairan paradigm baru pendidikan Islam berdasarkan referensi wahyu dan fisi profetik yang terakumulasi dalam ajaran Islam. Dengan konteks ini, Islam sebagai agama wahyu yang merupakan pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat amat kaya sumber prinsip dankonsep kependidikan. Di samping itu Nabi Muhammad Saw sendiri diutus sebagai pendidik umat manusia. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ajaran Islam sarat dengan konsep pendidikan, sehingga bukan satu hal yang mngada-ngada bila Islam diangkat sebagai alternative paradigm ilmu pendidikan.
Lebih jauh Achmadi berpandangan, sebagai alternative paradigm pendidikan, disamping pendidikan sebagai ilmu humaniora yang termasuk ilmu normatif, juga masakah pendidikan sekarang para ahli lebih cenderung menerapkan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat yang pada umumnya sekuler, yang belum tentu sesuai dengan kebanyakan masyarakat Indonesia yang bersifat religius. Apalagi disadari bahwa Islam yang sarat dengan nilai-nilai ternyata sangat memungkinkan dijadikan sudut pandang dalam menganalisis persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gejala-gejala pendidikan. Dalam kerangka inilah kedudukan Islam dapat menjadi paradigma ilmu pendidikan.
Pernyataan Islam berbagai paradigm pendidikan merupakan kenisscayaan dan obsesi sekaligus persoalan. Pendidikan senantiasa menghendaki adanya paradigm dan implementasi baru dalam menjawab krisis intelektual, moralitas dan cultural kehidupan manusia.
Pendidikan sekarang tampak kehilangan nafas dan esensinya dalam membentuk manusia ideal kea rah intelektualitas, moralitas, dan cultural yang diharapkan. Islam dengan konsep ke-Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman ternyata amat strategis menjadikan manusia dan masyarakat berkualitas bahkan menjadikannya sebagai makhlkuk sempurna dalam kerangka kehidupan ideal ssecara keseluruhan.
Dengan paradigma filosofis-epistemologis pendidikan Islam merupakan pendidika ideal yang berwawasan nilai, semesta, integratif dan fungsional, yang dibangun secara utuh, dan menyeluruh berdasarkan nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah), nilai-nilai kemanusiaan (insaniyah), dan nilai-nilai kealaman (alamiyah) secara interaktif, dinamis, integrative, dan harmonis ke dalam kehidupan yang ideal bagi peradaban umat manusia, yang bersumber dari segala sumber, yaitu Allah Swt.
Dalam konteks ini semakin jelas bahwa dengan pijakan “Islam” sebagai pola dasar paradigm ilmu pendidikan, akan menjadikan pendidikan Islam sangat ideal dijadikan pijakan pembangunan semua aspek kehidupan yang tidak terlepas dari Konsep Ketuhanan (ilahiyah), Kemanusiaan (insaniyah), dan alam semesta (alamiyah) secara utuh dan integrative mewujudkan pendidikan berkualitas bagi masa depan umat manusia yang berperadaban, dan berkeadilan; humanis dan ummatik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s